Kabarnegeriku // Jakarta . Pagi itu, Kamis, 28 Mei, sehari setelah kita merayakan kemenangan dan kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha. Matahari baru saja mulai meninggi di atas kawasan Marunda, Jakarta Utara. Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri yang tak pernah tidur, kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, takdir menulis cerita lain pagi itu, mengubah sinar pagi menjadi duka yang pekat, dan langit Jakarta Utara seolah ikut mendung, meneteskan air mata yang tak berhenti-henti.
Di jalanan yang berdebu dan bising itu, nyawa seorang anak perempuan melayang pergi. Sadiah Fitri binti Agus, gadis belia berusia 15 tahun, warga Jalan Betink Remaja, RT 03 RW 19, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja—warga Kampung Beting yang kami kenal ramah, sederhana, dan masih penuh mimpi. Masih duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar, usia yang seharusnya penuh dengan tawa riang, mimpi-mimpi indah, dan cita-cita yang sedang disusun rapi. Di masa di mana seragam sekolahnya masih tergantung rapi di rumah, buku-buku pelajaran masih tertumpuk di meja belajarnya, dan sepatu kecilnya masih tertata rapi, seolah menunggu pemiliknya pulang. Namun, pagi itu, semuanya berhenti seketika.
Kecelakaan lalu lintas ini bukan sekadar musibah biasa. Ia adalah tamparan keras, jeritan panjang, dan alarm yang berbunyi nyaring atas apa yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan kami warga di sini: jalanan yang tak pernah ramah, ruang yang sempit, dan keselamatan yang selalu terabaikan di antara riuh rendah kendaraan berat yang melintas.
Dan betapa pahitnya kenyataan yang harus kami telan: Bulan Mei yang belum usai ini, kepergian Sadiah adalah nyawa yang kelima tercatat melayang di jalanan Jakarta Utara. Lima nyawa, lima kisah yang terputus di tengah jalan, lima keluarga yang kini memeluk kesedihan, semua dalam waktu singkat. Seolah aspal di sini telah berubah menjadi lembaran daftar panjang duka, di mana kami setiap hari berdoa agar pulang selamat, namun bahaya seolah lebih berkuasa daripada perlindungan.
Di rumah duka, keheningan terasa memilukan. Orang tua tercinta menangis tergugu, memeluk sisa-sisa kenangan putri kecil mereka yang belum sempat merasakan dunia sepenuhnya. Tetangga berdatangan berbagi air mata, karena Sadiah bukan sekadar nama, ia adalah bagian dari napas Kampung Beting. Ia adalah bunga yang patah sebelum sempat mekar sepenuhnya; cahaya kecil yang padam, menambah panjang luka yang menganga lebar di dada seluruh warga Jakarta Utara.
Di tengah suasana berkabung yang mendalam dan pilu itu, hadirlah Ibu Wiwit Angreani bersama rekan-rekan, mewakili Aliansi Jakarta Utara Menggugat (A-JUM), dan mewakili Ketua kami, Bapak Anung Mhd. Kami berdiri di sini bukan hanya sekadar pelayat, bukan sekadar hadir melayat sesama manusia. Kami datang membawa suara hati seluruh warga yang sudah terlalu lama menahan sakit, membawa gugatan yang tak boleh lagi bungkam.
Tragedi ini mengingatkan kami kembali: kepergian Sadiah adalah bukti nyata, kelima kalinya bulan ini, bahwa kawasan industri dan jalanan di sini masih menjadi tempat yang mengancam nyawa kami. Tempat di mana kami melangkah setiap hari, namun rasanya seperti berjalan di tepi jurang kematian yang tak pernah dijaga.
Betapa mahalnya harga yang harus kami bayar. Nyawa seorang anak, masa depan yang hilang, tawa yang tak akan terdengar lagi. Lima kali kami menangis di bulan ini. Lima kali kami bertanya: sampai kapan kami harus kehilangan orang yang kami sayang? Sampai kapan keselamatan kami hanya menjadi harapan, bukan hak yang terpenuhi? Sampai kapan jalanan ini terus menelan korban, seolah tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli, dan tak ada yang bergerak?
Dini hari ini, pukul 03.00 WIB, Jumat 29 Mei, jenazah tercinta Sadiah Fitri akan berangkat meninggalkan Jakarta Utara, menempuh perjalanan panjang pulang ke kampung halaman tercinta di Tasikmalaya. Di sana, di tanah kelahirannya, ia akan disemayamkan dan dimakamkan dini hari nanti, beristirahat selamanya jauh dari bising, debu, dan bahaya jalanan yang telah merenggutnya dari pangkuan kami.
Pergilah dengan tenang, Dik Sadiah. Bawalah serta doa kami, bawalah kasih sayang orang tuamu, dan bawalah duka kami yang tak terukur. Di sana, di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak ada lagi kendaraan yang melaju kencang, tidak ada lagi jalan yang berbahaya, dan tidak ada lagi daftar kematian yang terus bertambah. Di sana, hanya ada damai abadi dan cahaya abadi yang menyambutmu.
Biarlah kepergianmu menjadi saksi abadi di atas tanah Marunda ini. Bahwa setiap tetes air mata yang jatuh hari ini adalah gugatan yang tak akan padam. Bahwa setiap nyawa yang hilang adalah bukti bahwa kami akan terus berjuang demi jalan yang aman, demi masa depan anak-anak kami, agar angka lima ini tidak berubah menjadi enam, tujuh, atau lebih lagi di bulan-bulan mendatang.
Selamat jalan, bunga kecil Kampung Beting, korban kelima bulan Mei yang kelam ini. Namamu akan terukir abadi dalam doa kami, dan kisahmu akan menjadi alasan kami—bersama Ibu Wiwit Angreani, Bap Anung Mhd, dan seluruh keluarga besar A-JUM—untuk terus berteriak, terus bersuara, dan terus menggugat demi hak keselamatan yang seharusnya kami terima.
Semoga tanah Tasikmalaya menjadi tempat paling teduh dan sejuk bagimu. Tidurlah dengan tenang, Nak. Di sini, kami akan selalu mengingatmu, dan berjanji tak akan berhenti berjuang sampai jalanan Jakarta Utara ini akhirnya berhenti menangis dan berhenti memangsa nyawa anak-anak kami.
-Penulis Wahyu Ramadhan
