Kondisi psikologis santriwati korban dugaan pencabulan oleh pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Pati disebut masih mengalami trauma berat. Korban dikabarkan kerap melamun, menangis, dan merasa ketakutan sejak peristiwa tersebut mencuat ke publik.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa korban hingga kini masih membutuhkan pendampingan intensif agar dapat pulih secara mental. Selain mengalami tekanan psikologis, korban juga disebut menjadi lebih tertutup dan sulit berinteraksi seperti biasanya.
“Kondisinya masih syok. Kadang melamun sendiri, sering menangis, dan takut bertemu orang lain,” ujar salah satu anggota keluarga korban.
Kasus dugaan pencabulan tersebut saat ini tengah ditangani aparat kepolisian. Penyidik telah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan berbagai alat bukti untuk mendalami laporan yang disampaikan pihak korban.
Sementara itu, pendamping korban meminta proses hukum dilakukan secara transparan dan berpihak pada perlindungan anak. Mereka juga berharap korban mendapatkan pendampingan psikologis yang memadai agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat karena melibatkan lingkungan pendidikan keagamaan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi para santri. Sejumlah pihak mendorong pengawasan terhadap lembaga pendidikan semakin diperkuat guna mencegah terulangnya kasus serupa.
Pihak kepolisian memastikan akan menangani perkara tersebut secara profesional serta memberikan perlindungan terhadap korban selama proses hukum berlangsung.
